Sydney, 05 Agustus 2015
"Bi lo dimana? Jadi ngerjain tugas bareng nggak?" Saya bisa mendengar wajah kesal Kirana di sebrang telepon. "Emmm...gue masih sama Orlin, Ran. Lo duluan aja deh, gue nyusul."
"Hih bilang napa lo harus ngerjain tugas. Kalau lo biarin, makan juga dia minta disuapin sama lo." Kirana tidak terdengar senang sama sekali. Sudah bukan pertama kali Kirana merasa harus bicara sejujur-jujurnya tentang pacar saya.
"Lin, I should go to Kirana's. We need to do a project together." Saya pamit. Jika saya dapat 1 dollar tiap Orlin memutar bola matanya, saya sudah jadi - setidaknya - jutawan. Tidak perlu susah-susah kuliah. "Come on, I followed you everywhere." Rajuk saya.
"Yeah, whatever." Orlin melenggang pergi.
Saya menghela nafas panjang sebelum mengejarnya. "Hey, I promise I'll cook tonight. Okay?"
Orlin diam sebentar. Lalu mengangguk. "Okay! See you tonight." Dia mencium pipi saya cepat lalu kembali berjalan.
___
"Gue heran loh betah banget lo disuruh-suruh sama tuh Sirloin." Kalimat pedas Kirana menyambut saya di pintu apartemennya. "Nice to see you too, Ran!" Jawab saya sarkastik. Iya, namanya masih Orlin, tapi Kirana menolak memanggil Orlin dengan nama aslinya sejak dahulu kala.
"Like, seriously, Bi, lo tuh nggak ada kurang-kurangnya. Sampe makanan aja yang masak tuh elu." Kirana belum mau berhenti rupanya.
"Jadi ngerjain tugas nggak ini?"
"Iye iye, udah ada yang gue kerjain beberapa. Gue mau main sama Ginger dulu." Kata Kirana sambil menggendong anjing putih berbulu keriting.
Tapi tidak lama setelah itu, ocehannya bersambung. Dan bahkan Ginger tidak bisa mencegahnya. "Lo udah punya exit strategy kan Bi?"
"Hah? Exit strategy buat kalau apartement lo kebakaran? Tangga emergency di sebelah kiri kan?"
Kirana memandang saya kesal. "Ih gue ngomongin Orlin, Bi."
"Oh gue pikir lo nggak tau namanya."
Kirana melengos.
Entah karena saya enggan dengan komentar pedas Kirana terhadap hubungan saya atau karena di dalam hati saya tahu saya lelah, tapi kalimat ini terlontar begitu saja. "I broke up with her this afternoon."
"SERIOUSLY?!"
Tuesday, December 8, 2015
Namanya Abimanyu
Sydney, 19 Agustus 2015
Saya berjalan keluar dari stasiun sambil menggiring koper dan terus mengeratkan kerah mantel untuk mencegah angin dingin masuk. Saya ingat bincang-bincang dua orang di kereta barusan. "Today's weather in Sydney is just lovely!"
Jika lovely berarti sinar matahari gagal menghangatkan apa pun di kota ini, saya setuju dengan mereka. Tapi nyatanya, saya masih harus berurusan dengan angin karena bus-nya tidak kunjung datang. 5 menit berselang, tidak ada tanda-tanda kedatangannya, saya memutuskan untuk berjalan ke penginapan saya.
Tiba-tiba ponsel saya berdering. "Halo!" Sapa saya. "Lo dimana?" Tanya dia di sebrang telepon. "Ini lagi jalan ke apartemen lo." "Hah? Jalan? Kan bisa naik bis!"
"Kelamaan."
"Mau gue jemput nggak?"
"Telat lo ah. Ini udah di depan American Apparel. Eh habis itu belok kiri ya?"
"Tunggu disana aja. Gue jemput." Klik. Saya pikir tidak ada ruginya menunggu dia, toh saya bisa mampir ke American Apparel terlebih dahulu. Mencuri start sebelum menghabiskan satu hari bersama sepupu saya lompat dari satu toko baju ke toko baju lainnya.
"Unna!" Saya menoleh ke arah suara familiar itu. Kami berpelukan, dia mengoceh tentang bagaimana keras kepalanya saya karena keputusan saya berjalan kaki. "Nggak apa-apa, deket tau."
"Eh ada temen gue di apartemen, lagi ngerjain tugas."
Saya mengangguk tidak peduli, saat saya tidak sengaja berpapasan dengan rok menggemaskan di bagian belakang toko.
"Ayo yuk! Laper gue!" Kirana menggeret saya keluar toko.
"Bentaran lagi deh makannya, gue pengen tidur-tiduran dulu." Kata saya sambil melempar diri ke sofa di dalam apartemen Kirana.
Tiba-tiba saya dengar kamar mandi dibuka, "Eh Ran, tissue lo mau habis tuh." Saya langsung menoleh ke asal suara.
Bukan hanya saya yang terkejut dengan suara berjakunnya, nampaknya dia tidak menyangka ada orang lain selain Kirana.
"Eh, Bi, kenalin ini sepupu gue."
Saya berdiri bersiap menjabat tangan pria di dengan sweater berlogo universitas di depan saya. "Abimanyu." "Unna," jawab saya menggantung. Ada rasa penasaran menggantung untuk ditanyakan pada pria setengah bule bernama Jawa ini.
Dia tergelak. "Hahahah iya banyak yang bilang."
"Eh?" Saya salah tingkah. "Banyak yang bilang muka saya nggak pantes kalo namanya Abimanyu." Giliran saya yang tergelak. "Keliatan banget ya penasarannya."
Dia tersenyum. "You are not the first."
Saya berjalan keluar dari stasiun sambil menggiring koper dan terus mengeratkan kerah mantel untuk mencegah angin dingin masuk. Saya ingat bincang-bincang dua orang di kereta barusan. "Today's weather in Sydney is just lovely!"
Jika lovely berarti sinar matahari gagal menghangatkan apa pun di kota ini, saya setuju dengan mereka. Tapi nyatanya, saya masih harus berurusan dengan angin karena bus-nya tidak kunjung datang. 5 menit berselang, tidak ada tanda-tanda kedatangannya, saya memutuskan untuk berjalan ke penginapan saya.
Tiba-tiba ponsel saya berdering. "Halo!" Sapa saya. "Lo dimana?" Tanya dia di sebrang telepon. "Ini lagi jalan ke apartemen lo." "Hah? Jalan? Kan bisa naik bis!"
"Kelamaan."
"Mau gue jemput nggak?"
"Telat lo ah. Ini udah di depan American Apparel. Eh habis itu belok kiri ya?"
"Tunggu disana aja. Gue jemput." Klik. Saya pikir tidak ada ruginya menunggu dia, toh saya bisa mampir ke American Apparel terlebih dahulu. Mencuri start sebelum menghabiskan satu hari bersama sepupu saya lompat dari satu toko baju ke toko baju lainnya.
"Unna!" Saya menoleh ke arah suara familiar itu. Kami berpelukan, dia mengoceh tentang bagaimana keras kepalanya saya karena keputusan saya berjalan kaki. "Nggak apa-apa, deket tau."
"Eh ada temen gue di apartemen, lagi ngerjain tugas."
Saya mengangguk tidak peduli, saat saya tidak sengaja berpapasan dengan rok menggemaskan di bagian belakang toko.
"Ayo yuk! Laper gue!" Kirana menggeret saya keluar toko.
"Bentaran lagi deh makannya, gue pengen tidur-tiduran dulu." Kata saya sambil melempar diri ke sofa di dalam apartemen Kirana.
Tiba-tiba saya dengar kamar mandi dibuka, "Eh Ran, tissue lo mau habis tuh." Saya langsung menoleh ke asal suara.
Bukan hanya saya yang terkejut dengan suara berjakunnya, nampaknya dia tidak menyangka ada orang lain selain Kirana.
"Eh, Bi, kenalin ini sepupu gue."
Saya berdiri bersiap menjabat tangan pria di dengan sweater berlogo universitas di depan saya. "Abimanyu." "Unna," jawab saya menggantung. Ada rasa penasaran menggantung untuk ditanyakan pada pria setengah bule bernama Jawa ini.
Dia tergelak. "Hahahah iya banyak yang bilang."
"Eh?" Saya salah tingkah. "Banyak yang bilang muka saya nggak pantes kalo namanya Abimanyu." Giliran saya yang tergelak. "Keliatan banget ya penasarannya."
Dia tersenyum. "You are not the first."
Saturday, October 31, 2015
Jodoh
Semua kata-kata
harus tepat sasaran. Setiap kalimat harus tetap sederhana, tidak mengada-ada,
tidak ada embel-embel kode, tidak ada tutur manis, hanya ucapan selamat ulang
tahun biasa. Hanya doa yang dibuat setulus-tulusnya, kalau bisa.
Selamat ulang taun,
kamu. Panjang umur & sehat selalu ya. Semoga semua urusannya dilancarkan.
Amin.
Setiap tahun, doa
saya untuknya selalu sama. 2 tahun lalu, ‘semoga semuanya dilancarkan’ masih
‘semoga sukses kuliahnya’. 1 tahun yang lalu menjadi ‘semoga cepat selesai
skripsinya, dan semoga sukses untuk sidangnya’.
Mungkin judulnya
doa selamat ulang tahun, tapi saya yang egois selalu meluputkan satu doa tiap
tahun. Doa basa-basi yang saya takut akan jadi kenyataan, karena sebenarnya
saya masih sayang.
___
Hari ini saya ulang
tahun yang ke-24. Tiup lilin dan kue cokelat bundar sudah jadi kebiasaan di
kantor tiap tahun. Giliran saya yang anak bawang jadi target. Saya sudah
was-was dari jam masuk kantor. Tapi tidak ada yang aneh, bahkan saya sudah
berasumsi mereka lupa. Tapi 2 menit sebelum jam pulang kantor, Tio, tetangga
kubikel saya meniup terompet tepat di lubang telinga saya.
Dan setelah hingar
bingar terompet, lagu ulang tahun, dan tiup lilin, serta potong kue, Whatsapp
saya menunjukkan notifikasi baru. Meskti tanpa nama, saya kenal betul nomor
telepon itu. Saya menggeser layar tepat di atas notifikasi itu dan dia disana
dengan ucapan selamat ulang tahun serta doanya yang mirip tiap tahun.
Saya mulai mengetik
ucapan terima kasih.
Haloo, terima kasih
ucapannnya. Semoga urusan kamu juga dilancarkan ya. J
Dan tiap tahun,
ucapan terima kasih dengan harapan doa baiknya akan kembali pada empunya tidak
saya tambahkan dengan doa paling umum zaman sekarang. Kebanyakan, karena saya
tahu itu hanya basa-basi. Sisanya, saya takut doanya akan jadi nyata. Karena
kalau boleh jujur, saya masih sayang.
Tuesday, August 25, 2015
Skenario
Skenarionya,
kami berada di kafe kecil tanpa banyak orang, sepulang dari kantor atau
sepulang kuliah atau… waktu tidak pernah menjadi masalah besar buat skenario
saya. Kami akan memilih tempat duduk jauh dari pintu masuk dan dari
pramusajinya karena yang ada di bayangan saya, rindu akan menyerap semua sunyi
dan dunia ini akan terasa milik berdua. Salah satu dari kami akan datang lebih
cepat. Gugup menunggu satu sama lain. Itu biasanya saya.
Percakapan
kami akan dimulai dengan, “Hai, udah nunggu lama ya?” Katanya sambil duduk
menghadap saya. Saya menggeleng sambil sibuk menyembunyikan rasa lega saya
karena kemunculannya. Lalu percakapan kami pun akan berlanjut seputar bagaimana
kemacetan Jakarta membuat dirinya datang tidak tepat waktu, lalu pekerjaannya
di kantor, lalu bagaimana kecelakaan kecil yang dialaminya minggu lalu
meninggalkan bekas luka di sekitar lengannya. Saya akan terus melihatnya
bercerita walaupun kenyataannya akan sulit dilakukan tanpa terus berusaha untuk
mengalihkan perhatian saya pada caranya melipat lengan bajunya, memperlihatkan
jenjang lengannya.
Lalu
dia akan bertanya bagaimana hari saya saat makanan pesanan kami datang, dan
setelahnya saya tahu dia tidak benar-benar ingin bertanya. Tapi itu tidak menghentikan
saya dari mengaguminya dari jarak sebegini dekat. Caranya dia tertawa, atau
membenarkan letak kacamatanya, bahkan caranya melipat tangan di atas meja.
Dua
atau tiga jam tidak pernah cukup, setidaknya di skenario saya. Mulai dari film
yang sedang ia tunggu-tunggu, atau makanan favorit barunya, atau doppelganger
yang tidak sengaja saya temukan saat menekan tombol explore di Instagram.
Sebanyak apa pun topik pembicaraan kami, tidak akan pernah cukup untuk
meluapkan kangen saya pada orang ini. Tapi dia tidak akan pernah tahu karena
saya tidak pernah gagal menyembunyikannya. Bukannya saya tidak percaya
emansipasi wanita, bahwa tidak akan pernah jadi soal untuk menyatakan perasaan
saya duluan, tapi saya tidak pernah siap dengan responnya. Bagaimana pun cara
dia mengatakannya, bertele-tele dengan kata ‘maaf’ atau lugas tanpa ‘babibu’,
jawabannya tidak.
Tidak
lupa sedikit petunjuk dia sedang tidak sendiri. Tidak pernah lugas, tapi tidak
buram. Cukup untuk membuat saya menjaga jarak. Saya akan berlagak tidak peduli
lalu dengan ringannya melempar canda.
Setelahnya
saya akan bercerita tentang kepindahan saya sambil sibuk mencari kehilangan
yang seandainya ada, akan saya temukan di matanya, di caranya menatap saya
setelah cerita saya.
Untuk
beberapa saat, kami akan melihat jam tangan masing-masing, memutuskan untuk
lekas pulang. Saya pamit duluan, sambil berkata, “Hati-hati di jalan ya. Semoga
betah di kantor baru.” Tidak lupa sambil menjaga jarak, tanpa gestur perhatian
yang dulu biasa saya berikan. Dia akan tersenyum sambil menjawab, “Iya, kamu
juga.”
Tapi
tidak satu pun dari kami akan beranjak pergi. Karena untuk saya, hanya butuh
beberapa jam untuk kembali jatuh hati. Sempat terbesit di pikiran saya bahwa
saya tidak pernah berhenti mencintai tapi saya lebih suka menyalahkan lembeknya
hati kalau perkara pria satu ini.
Dengan
satu helaan nafas, saya beranjak pergi. Dia mengikuti saya keluar dari kafe.
“Pulang naik apa kamu?” Tanyanya berbaik hati. “Mobil aku parkir di sana.”
“Yaudah
ayo, aku anter ke mobil kamu.”
Saya
tergelak. “Nggak usah, ah. Kamu naik apa pulang?”
“Gampanglah
kalo aku. Kamu malem-malem gini dicariin orang rumah entar.” Katanya acuh
sambil berjalan ke arah mobil saya. Sesampainya di depan mobil saya, saya akan
menawarkan mengantarnya pulang, yang akan ditolaknya baik-baik. Saya harap saya
tidak melukai egonya, karena kebanyakan pria punya hubungan khusus dengan ego
mereka, dan mereka akan marah jika egonya diganggu.
“Aku
pamit, ya.” Saya memutuskan untuk menjabat tangannya.
“Kamu baik-baik ya.”
Katanya sambil menjabat tangan saya erat sebelum akhirnya berjalan balik
menjauh dari saya.
___
Hai. Jadi ketemu hari ini?
Pesan saya kirimkan. Tidak lama kemudian, dia merespon.
hai, sorry, aku nggak bisa, next week aja gimana?
Dan pertemuan barusan harus menunggu sampai minggu depan untuk jadi kenyataan.
Friday, July 3, 2015
The Lovers
Bunyi alarm membangunkan aku dengan paksa pagi ini. Aku menggerakan tanganku mencari ponselku di bawah guling dan menekan asal layarnya, berharap suara bising itu berhenti. Aku menghela nafas panjang lalu mencoba menggerakan badanku keluar dari tempat tidur. Berat hati memang tapi apa daya kelas pagi sudah ditetapkan di awal semester. 5 menit kemudian, aku berjalan gontai ke arah kamar mandi. Butuh 15 menit untuk menyelesaikan ritual pagi lalu tidak lupa melihat jadwal kuliah hari ini.
"Ah, Pak Aji lagi." Gerutuku kesal. Dosen Akuntansi yang hobinya bikin jadwal seenaknya ini tidak hanya menyandang status sebagai dosen paling telat se-kampus tapi juga jago bikin alasan untuk membatalkan kelas di menit-menit terakhir.
Aku mengambil tote bag raksasa andalanku dan membuka pintu kamar apartemenku. Entah semesta punya hobi membuatku deg-degan atau ini cuma kebetulan tapi ini adalah kali kesepuluh aku berpapasan dengan dia. Pria dengan tinggi 2x dari aku yang percaya takhayul. Kuliahnya boleh Teknik Mesin tapi untuk urusan jodoh, dia lebih percaya kartu tarot. Seminggu sekali mampir kamar apartemenku dengan 1001 alasan yang dia punya cuman untuk membaca majalah 'wanita' terbaru milikku hanya untuk mengintip halaman horoskop. Ha. Lucu, aku pikir. Tapi caranya bermain piano meratakan tembok pertahananku selama ini. Sejak permainan pertamanya di auditorium universitas aku selalu lupa caranya bernafas setiap berpapasan dengannya. "Hai!" Sapanya dengan senyum lebar. "Halo." Aku harap dia tidak melihat pipiku merona.
Kami berjalan beriringan di lorong apartemen dan saya enggan mencari topik pembicaraan. "Kuliah Pak Aji ya." Saya yang kaget langsung menoleh. "Kok lo tau?"
"Tadi kedengeran lo ngomel." Katanya. "Eh, besok gue mampir ya." Sahutnya lagi. "Ini gue bawain majalah bulan ini." Jawabku sambil mengambil majalah dengan Raline Shah di cover-nya. "Wah! Makasih ya. Tapi gue mau minta tolong dibacain Tarot, sebenernya."
"Heh?"
"Iya, katanya Dira lo jago. Kenapa nggak pernah ngomong deh, gue kemaren nyari sampe ke Tangerang, tau." Dia malah curhat.
Dira sialan.
"Err.. yaudah deh. Mau dibacain apa?"
"Hehehe.. lo kayak nggak tau gue aja."
"Hehehe, gue nggak tau emang."
"Yah apalagi sih, paling kenapa gue nggak punya pacar." Dia tertawa. Pahit.
Mau tidak mau aku ikut tertawa.
Esok paginya dia sudah anteng duduk di sofa sambil membaca majalah yang kemarin aku pinjamkan. Aku bergabung dengannya sambil membawa satu tumpuk kartu tarot pribadiku.
"Mau Bismillah dulu, nggak?" Godaku.
"Eh, emang boleh?"
"Auk deh. Gue ngasal doang." Jawabku sambil cekikikan. "Ih sesat lo!" Katanya sambil memukul pundakku pelan.
"Mulai ya." Aku memberikan kartu tarotnya untuk dikocok. "Gue yang ngocok yah?" Aku mengangguk.
"Nih udah." Katanya memberikan kartu-kartu itu lagi padaku. "Sekarang pilih satu."
Butuh 5 detik untuk dia memilih kartu pertamanya.
Aku membuka kartu pertamanya. Aku tercenung. "Emm..Ada yang suka sama lo, nih."
Aku bisa melihat pupil matanya membesar, tertarik. "Wah, gue kenal nggak?"
"Ambil satu kartu lagi." Dia membukanya lalu melihat aku. penasaran apa arti kartu keduanya. "Lo kenal. Dia...dekat."
Deg.
Dan ada perasaan tidak enak menyeliputiku. Aku bisa merasakan keringat dingin meluncur dari atas punggungku.
"Deket gimana maksudnya? Anak kelas gue?"
Kartu lain dibuka dan aku menggeleng. "Bukan anak teknik, kok." Dia terlihat berpikir keras. "Siapa ya.."
"Lo mau nebak atau gimana?" Aku bertanya nekad, tapi 1:1000 dia akan tahu itu aku. "Risa bukan?"
Hah? Siapa tuh Risa? Kataku dalam hati, sedikit cemburu.
Aku membuka kartu lainnya. Lalu menggeleng. "Manda bukan?"
Cemburuku tidak lagi sedikit.
Kartu lain terbuka dan aku kembali menggeleng. Aku bisa saja berbohong tapi ada profesionalisme yang harus aku jaga.
"Anak akuntansi bukan?"
Eh?
Lalu kubuka kartu berikutnya. "Hmm.. Iya. Anak akuntansi. Kok spesifik banget?"
Dia tersenyum puas. "Cukup itu yang perlu gue tahu."
Subscribe to:
Posts (Atom)