Home              About              Stories              Projects             Late Night Thoughts            Review

Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Tuesday, December 15, 2015

Obrolan di Warung Pecel

Saya bersandar ke pilar tembok di area depan Stasiun Tugu Malang. Jam tangan saya menunjukkan pukul 08.25. Beberapa menit yang lalu pemberitahuan kereta api Gajayana dari Jakarta sudah sampai. Saya kembali melihat jam tangan saya.

"Halo!" Dia menyapa saya dari jauh. "Hai!"

Mungkin salah, tapi saya mau menariknya ke dekapan saya. Keinginan itu langsung saya simpan rapat-rapat saat dia sudah sampai di depan saya.

"Lama ya tadi nunggunya?" Perempuan dengan potongan rambut asing di depan saya bertanya. "Nggak kok. Tadi aku juga baru dateng." Jawab saya berbohong. Saya sampai di stasiun pukul 07.30 saking semangatnya.

"Tangan kamu dingin banget!" Katanya sambil mendekap telapak tangan saya. "Tangan kamu yang hangat mungkin." Saya melepaskan genggaman saya perlahan.

"Mau makan apa?" Saya mengalihkan pembicaraan. "Kamu masih suka nasi pecel? Ada warung pecel enak di deket sini."


__


15 menit sesudah kami duduk di warung pecel sebelah stasiun, dua piring nasi sudah ada di meja, tapi kami masih sibuk berbincang-bincang, membicarakan masa yang sebentar lagi kami tinggalkan.

"Kamu kapan berangkat?" Saya bertanya. Rencananya untuk pergi ke belahan dunia lain sempat menganggetkan saya, tapi butuh lebih dari status saya sebagai mantan untuk mencegahnya pergi.

"Bulan depan. Cepet banget berasanya. Kamu wisuda udah ada gandengan belom?"

"Hahahah aku ditemenin Ibuk aja."

Dia tersenyum. "Rencana kerja di Malang?"

"Nggak, kemarin aku udah diterima di tempat aku magang kemarin. Di Jakarta."

"Oh, Selamat ya!"

"Iya makasih. Hahaha lucu ya, aku ke Jakarta, kamu malah cabut ke beda benua." Cetus saya jenaka. Sembunyi dari rasa penasaran saya atas responnya.

"Itu namanya nggak jodoh." Jawabnya sambil tersenyum. Saya tersenyum miris.

Rasanya tidak se-nyelekit ini saat kami berdua putus. Tidak sesakit saat dia bilang "semuanya emang butuh waktu, termasuk buat ngelupain kamu," atau saat dia bilang "kamu yang langgeng ya sama pacar."

"Kamu nggak ada rencana balik ke Indo?"

"Belum tau."

"Well, aku harap kamu balik ke Indo kalau gitu."

Mungkin ini waktunya untuk menunjukkan sedikit perlawanan yang dia inginkan. Mungkin pergi adalah caranya untuk memberitahu saya untuk memaksa dia tinggal. Saya mengerti berjuang tidak sebercanda itu, tapi tidak akan sulit jika dia satu-satunya orang yang saya ingin habiskan hidup bersama. Dia yang selalu saya cari di pacar-pacar saya setelah dia. Tapi nyatanya saya harus kembali untuk menemukan yang saya cari. Dulu saya enggan untuk memaksa, memberitahukan keinginan saya, karena saya pikir dia tidak akan peduli. Tapi lihat keadaannya sekarang? Dia harus kabur ke luar benua dulu untuk menyadarkan saya.

Kali ini, saya mengerti.

Dia tergelak mendengar jawaban saya. "Insyaallah, ya. Tapi aku nggak janji."

"Entar yang aku gandeng pas wisuda siapa kalau bukan kamu?"

Dia memerhatikan wajah saya, mencari mimik guyon - yang saya yakinkan - tidak disana.

Sebelum dia menjawab, saya berkata, "saya butuh 2 tahun untuk saya ngelupain kamu. Kamu nggak pernah tau, saya nggak pernah ngasih tunjuk ke kamu. Itu salah saya. Salah saya tidak pernah berusaha buat meminta kamu tinggal. Yang kamu tau, saya bahagia sama pacar saya sekarang. Lalu kamu pergi ke Jakarta. Kita tambah jauh. Saya nyerah untuk membuat kamu kembali. Lalu sekarang kamu tiba-tiba mau ke Palermo. Saya aja nggak tahu itu ada di bagian peta sebelah mana. Tapi saya mau kamu balik lagi buat wisuda saya. Saya mau kamu. Because you are my worth suffering for."

Lama kami berpandangan dan dia sama sekali tidak mengeluarkan suara. Tiba-tiba saya mendengar Ibu penjual pecel berdeham di meja sebrang kami. Kami sontak menoleh ke arah asal suara.

"Maaf Mbak, Mas, kami cuma buka sampai setengah 10 pagi saja." Kata Ibu penjual pecel malu sambil tidak bisa menyembunyikan wajah merahnya ingin tertawa.

Jam menunjukkan pukul 09.25. "Oh iya maaf Bu, berapa semuanya?" Tanya Saya sambil menarik dompet dari saku belakang.

__


Malang, 19 September 2016

Saya kembali membetulkan letak Toga saya. Rasanya gerah sekali. Gugup untuk segera menambah S.E di belakang nama saya. Ibuk sibuk menyeka keringatnya sambil terus menggoyangkan kipas di tangan kiri. Saya melirik jam tangan, acara sebentar lagi dimulai dan dia belum kelihatan batang hidungnya. Pembawa acara sudah siap-siap di depan mic dan dia masih belum kelihatan.

"Hai." Sapaan itu dibarengi kecupan ringan di pipi. "Selamat wisuda ya, Sayang." Katanya sambil duduk di samping kiri saya. "Makasih ya."

Mungkin memang semua sudah ada jalannya. Mungkin obrolan di warung pecel beberapa bulan lalu adalah turning point buat saya. Mungkin dia memang bukan untuk saya. Ini waktunya untuk merelakan.

Saya merasakan getar ponsel di dalam saku. Saya membuka pesan paling atas.


Selamat wisuda, Putra. Semoga selalu sukses untuk karier kamu. Dan selamat untuk pertunangannya. Semoga lancar sampai hari H. Doa terbaik saya buat kamu.

Laras


 

 




Tuesday, December 8, 2015

If There's Such A Thing as White Lie

Sydney, 05 Agustus 2015

"Bi lo dimana? Jadi ngerjain tugas bareng nggak?" Saya bisa mendengar wajah kesal Kirana di sebrang telepon. "Emmm...gue masih sama Orlin, Ran. Lo duluan aja deh, gue nyusul."

"Hih bilang napa lo harus ngerjain tugas. Kalau lo biarin, makan juga dia minta disuapin sama lo." Kirana tidak terdengar senang sama sekali. Sudah bukan pertama kali Kirana merasa harus bicara sejujur-jujurnya tentang pacar saya.

"Lin, I should go to Kirana's. We need to do a project together." Saya pamit. Jika saya dapat 1 dollar tiap Orlin memutar bola matanya, saya sudah jadi - setidaknya - jutawan. Tidak perlu susah-susah kuliah. "Come on, I followed you everywhere." Rajuk saya.

"Yeah, whatever." Orlin melenggang pergi.

Saya menghela nafas panjang sebelum mengejarnya. "Hey, I promise I'll cook tonight. Okay?"

Orlin diam sebentar. Lalu mengangguk. "Okay! See you tonight." Dia mencium pipi saya cepat lalu kembali berjalan.

___


"Gue heran loh betah banget lo disuruh-suruh sama tuh Sirloin." Kalimat pedas Kirana menyambut saya di pintu apartemennya. "Nice to see you too, Ran!" Jawab saya sarkastik. Iya, namanya masih Orlin, tapi Kirana menolak memanggil Orlin dengan nama aslinya sejak dahulu kala.

"Like, seriously, Bi, lo tuh nggak ada kurang-kurangnya. Sampe makanan aja yang masak tuh elu." Kirana belum mau berhenti rupanya.

"Jadi ngerjain tugas nggak ini?"

"Iye iye, udah ada yang gue kerjain beberapa. Gue mau main sama Ginger dulu." Kata Kirana sambil menggendong anjing putih berbulu keriting.

Tapi tidak lama setelah itu, ocehannya bersambung. Dan bahkan Ginger tidak bisa mencegahnya. "Lo udah punya exit strategy kan Bi?"

"Hah? Exit strategy buat kalau apartement lo kebakaran? Tangga emergency di sebelah kiri kan?"

Kirana memandang saya kesal. "Ih gue ngomongin Orlin, Bi."

"Oh gue pikir lo nggak tau namanya."

Kirana melengos.

Entah karena saya enggan dengan komentar pedas Kirana terhadap hubungan saya atau karena di dalam hati saya tahu saya lelah, tapi kalimat ini terlontar begitu saja. "I broke up with her this afternoon."

"SERIOUSLY?!"

Namanya Abimanyu

Sydney, 19 Agustus 2015

Saya berjalan keluar dari stasiun sambil menggiring koper dan terus mengeratkan kerah mantel untuk mencegah angin dingin masuk. Saya ingat bincang-bincang dua orang di kereta barusan. "Today's weather in Sydney is just lovely!"

Jika lovely berarti sinar matahari gagal menghangatkan apa pun di kota ini, saya setuju dengan mereka. Tapi nyatanya, saya masih harus berurusan dengan angin karena bus-nya tidak kunjung datang. 5 menit berselang, tidak ada tanda-tanda kedatangannya, saya memutuskan untuk berjalan ke penginapan saya.


Tiba-tiba ponsel saya berdering. "Halo!" Sapa saya. "Lo dimana?" Tanya dia di sebrang telepon. "Ini lagi jalan ke apartemen lo." "Hah? Jalan? Kan bisa naik bis!"

"Kelamaan."

"Mau gue jemput nggak?"

"Telat lo ah. Ini udah di depan American Apparel. Eh habis itu belok kiri ya?"

"Tunggu disana aja. Gue jemput." Klik. Saya pikir tidak ada ruginya menunggu dia, toh saya bisa mampir ke American Apparel terlebih dahulu. Mencuri start sebelum menghabiskan satu hari bersama sepupu saya lompat dari satu toko baju ke toko baju lainnya.

"Unna!" Saya menoleh ke arah suara familiar itu. Kami berpelukan, dia mengoceh tentang bagaimana keras kepalanya saya karena keputusan saya berjalan kaki. "Nggak apa-apa, deket tau."

"Eh ada temen gue di apartemen, lagi ngerjain tugas."

Saya mengangguk tidak peduli, saat saya tidak sengaja berpapasan dengan rok menggemaskan di bagian belakang toko.

"Ayo yuk! Laper gue!" Kirana menggeret saya keluar toko.

"Bentaran lagi deh makannya, gue pengen tidur-tiduran dulu." Kata saya sambil melempar diri ke sofa di dalam apartemen Kirana.

Tiba-tiba saya dengar kamar mandi dibuka, "Eh Ran, tissue lo mau habis tuh." Saya langsung menoleh ke asal suara.

Bukan hanya saya yang terkejut dengan suara berjakunnya, nampaknya dia tidak menyangka ada orang lain selain Kirana.

"Eh, Bi, kenalin ini sepupu gue."

Saya berdiri bersiap menjabat tangan pria di dengan sweater berlogo universitas di depan saya. "Abimanyu." "Unna," jawab saya menggantung. Ada rasa penasaran menggantung untuk ditanyakan pada pria setengah bule bernama Jawa ini.

Dia tergelak. "Hahahah iya banyak yang bilang."

"Eh?" Saya salah tingkah. "Banyak yang bilang muka saya nggak pantes kalo namanya Abimanyu." Giliran saya yang tergelak. "Keliatan banget ya penasarannya."

Dia tersenyum. "You are not the first."

Saturday, October 31, 2015

Jodoh

Semua kata-kata harus tepat sasaran. Setiap kalimat harus tetap sederhana, tidak mengada-ada, tidak ada embel-embel kode, tidak ada tutur manis, hanya ucapan selamat ulang tahun biasa. Hanya doa yang dibuat setulus-tulusnya, kalau bisa.

Selamat ulang taun, kamu. Panjang umur & sehat selalu ya. Semoga semua urusannya dilancarkan. Amin.

Setiap tahun, doa saya untuknya selalu sama. 2 tahun lalu, ‘semoga semuanya dilancarkan’ masih ‘semoga sukses kuliahnya’. 1 tahun yang lalu menjadi ‘semoga cepat selesai skripsinya, dan semoga sukses untuk sidangnya’.

Mungkin judulnya doa selamat ulang tahun, tapi saya yang egois selalu meluputkan satu doa tiap tahun. Doa basa-basi yang saya takut akan jadi kenyataan, karena sebenarnya saya masih sayang.

___

Hari ini saya ulang tahun yang ke-24. Tiup lilin dan kue cokelat bundar sudah jadi kebiasaan di kantor tiap tahun. Giliran saya yang anak bawang jadi target. Saya sudah was-was dari jam masuk kantor. Tapi tidak ada yang aneh, bahkan saya sudah berasumsi mereka lupa. Tapi 2 menit sebelum jam pulang kantor, Tio, tetangga kubikel saya meniup terompet tepat di lubang telinga saya.

Dan setelah hingar bingar terompet, lagu ulang tahun, dan tiup lilin, serta potong kue, Whatsapp saya menunjukkan notifikasi baru. Meskti tanpa nama, saya kenal betul nomor telepon itu. Saya menggeser layar tepat di atas notifikasi itu dan dia disana dengan ucapan selamat ulang tahun serta doanya yang mirip tiap tahun.

Saya mulai mengetik ucapan terima kasih.

Haloo, terima kasih ucapannnya. Semoga urusan kamu juga dilancarkan ya. J

Dan tiap tahun, ucapan terima kasih dengan harapan doa baiknya akan kembali pada empunya tidak saya tambahkan dengan doa paling umum zaman sekarang. Kebanyakan, karena saya tahu itu hanya basa-basi. Sisanya, saya takut doanya akan jadi nyata. Karena kalau boleh jujur, saya masih sayang.   
  



Tuesday, August 25, 2015

Skenario

Skenarionya, kami berada di kafe kecil tanpa banyak orang, sepulang dari kantor atau sepulang kuliah atau… waktu tidak pernah menjadi masalah besar buat skenario saya. Kami akan memilih tempat duduk jauh dari pintu masuk dan dari pramusajinya karena yang ada di bayangan saya, rindu akan menyerap semua sunyi dan dunia ini akan terasa milik berdua. Salah satu dari kami akan datang lebih cepat. Gugup menunggu satu sama lain. Itu biasanya saya.
Percakapan kami akan dimulai dengan, “Hai, udah nunggu lama ya?” Katanya sambil duduk menghadap saya. Saya menggeleng sambil sibuk menyembunyikan rasa lega saya karena kemunculannya. Lalu percakapan kami pun akan berlanjut seputar bagaimana kemacetan Jakarta membuat dirinya datang tidak tepat waktu, lalu pekerjaannya di kantor, lalu bagaimana kecelakaan kecil yang dialaminya minggu lalu meninggalkan bekas luka di sekitar lengannya. Saya akan terus melihatnya bercerita walaupun kenyataannya akan sulit dilakukan tanpa terus berusaha untuk mengalihkan perhatian saya pada caranya melipat lengan bajunya, memperlihatkan jenjang lengannya.
Lalu dia akan bertanya bagaimana hari saya saat makanan pesanan kami datang, dan setelahnya saya tahu dia tidak benar-benar ingin bertanya. Tapi itu tidak menghentikan saya dari mengaguminya dari jarak sebegini dekat. Caranya dia tertawa, atau membenarkan letak kacamatanya, bahkan caranya melipat tangan di atas meja.
Dua atau tiga jam tidak pernah cukup, setidaknya di skenario saya. Mulai dari film yang sedang ia tunggu-tunggu, atau makanan favorit barunya, atau doppelganger yang tidak sengaja saya temukan saat menekan tombol explore di Instagram. Sebanyak apa pun topik pembicaraan kami, tidak akan pernah cukup untuk meluapkan kangen saya pada orang ini. Tapi dia tidak akan pernah tahu karena saya tidak pernah gagal menyembunyikannya. Bukannya saya tidak percaya emansipasi wanita, bahwa tidak akan pernah jadi soal untuk menyatakan perasaan saya duluan, tapi saya tidak pernah siap dengan responnya. Bagaimana pun cara dia mengatakannya, bertele-tele dengan kata ‘maaf’ atau lugas tanpa ‘babibu’, jawabannya tidak.

Tidak lupa sedikit petunjuk dia sedang tidak sendiri. Tidak pernah lugas, tapi tidak buram. Cukup untuk membuat saya menjaga jarak. Saya akan berlagak tidak peduli lalu dengan ringannya melempar canda.
Setelahnya saya akan bercerita tentang kepindahan saya sambil sibuk mencari kehilangan yang seandainya ada, akan saya temukan di matanya, di caranya menatap saya setelah cerita saya.
Untuk beberapa saat, kami akan melihat jam tangan masing-masing, memutuskan untuk lekas pulang. Saya pamit duluan, sambil berkata, “Hati-hati di jalan ya. Semoga betah di kantor baru.” Tidak lupa sambil menjaga jarak, tanpa gestur perhatian yang dulu biasa saya berikan. Dia akan tersenyum sambil menjawab, “Iya, kamu juga.”
Tapi tidak satu pun dari kami akan beranjak pergi. Karena untuk saya, hanya butuh beberapa jam untuk kembali jatuh hati. Sempat terbesit di pikiran saya bahwa saya tidak pernah berhenti mencintai tapi saya lebih suka menyalahkan lembeknya hati kalau perkara pria satu ini.
Dengan satu helaan nafas, saya beranjak pergi. Dia mengikuti saya keluar dari kafe. “Pulang naik apa kamu?” Tanyanya berbaik hati. “Mobil aku parkir di sana.”
“Yaudah ayo, aku anter ke mobil kamu.”
Saya tergelak. “Nggak usah, ah. Kamu naik apa pulang?”
“Gampanglah kalo aku. Kamu malem-malem gini dicariin orang rumah entar.” Katanya acuh sambil berjalan ke arah mobil saya. Sesampainya di depan mobil saya, saya akan menawarkan mengantarnya pulang, yang akan ditolaknya baik-baik. Saya harap saya tidak melukai egonya, karena kebanyakan pria punya hubungan khusus dengan ego mereka, dan mereka akan marah jika egonya diganggu.
“Aku pamit, ya.” Saya memutuskan untuk menjabat tangannya. 

“Kamu baik-baik ya.” Katanya sambil menjabat tangan saya erat sebelum akhirnya berjalan balik menjauh dari saya.
___

Hai. Jadi ketemu hari ini?
Pesan saya kirimkan. Tidak lama kemudian, dia merespon. 

hai, sorry, aku nggak bisa, next week aja gimana?

Dan pertemuan barusan harus menunggu sampai minggu depan untuk jadi kenyataan. 



Friday, July 3, 2015

The Lovers

Bunyi alarm membangunkan aku dengan paksa pagi ini. Aku menggerakan tanganku mencari ponselku di bawah guling dan menekan asal layarnya, berharap suara bising itu berhenti. Aku menghela nafas panjang lalu mencoba menggerakan badanku keluar dari tempat tidur. Berat hati memang tapi apa daya kelas pagi sudah ditetapkan di awal semester. 5 menit kemudian, aku berjalan gontai ke arah kamar mandi. Butuh 15 menit untuk menyelesaikan ritual pagi lalu tidak lupa melihat jadwal kuliah hari ini.

"Ah, Pak Aji lagi." Gerutuku kesal. Dosen Akuntansi yang hobinya bikin jadwal seenaknya ini tidak hanya menyandang status sebagai dosen paling telat se-kampus tapi juga jago bikin alasan untuk membatalkan kelas di menit-menit terakhir. 

Aku mengambil tote bag raksasa andalanku dan membuka pintu kamar apartemenku. Entah semesta punya hobi membuatku deg-degan atau ini cuma kebetulan tapi ini adalah kali kesepuluh aku berpapasan dengan dia. Pria dengan tinggi 2x dari aku yang percaya takhayul. Kuliahnya boleh Teknik Mesin tapi untuk urusan jodoh, dia lebih percaya kartu tarot. Seminggu sekali mampir kamar apartemenku dengan 1001 alasan yang dia punya cuman untuk membaca majalah 'wanita' terbaru milikku hanya untuk mengintip halaman horoskop. Ha. Lucu, aku pikir. Tapi caranya bermain piano meratakan tembok pertahananku selama ini. Sejak permainan pertamanya di auditorium universitas aku selalu lupa caranya bernafas setiap berpapasan dengannya. "Hai!" Sapanya dengan senyum lebar. "Halo." Aku harap dia tidak melihat pipiku merona. 

Kami berjalan beriringan di lorong apartemen dan saya enggan mencari topik pembicaraan. "Kuliah Pak Aji ya." Saya yang kaget langsung menoleh. "Kok lo tau?" 

"Tadi kedengeran lo ngomel." Katanya. "Eh, besok gue mampir ya." Sahutnya lagi. "Ini gue bawain majalah bulan ini." Jawabku sambil mengambil majalah dengan Raline Shah di cover-nya. "Wah! Makasih ya. Tapi gue mau minta tolong dibacain Tarot, sebenernya."

"Heh?"

"Iya, katanya Dira lo jago. Kenapa nggak pernah ngomong deh, gue kemaren nyari sampe ke Tangerang, tau." Dia malah curhat. 

Dira sialan.

"Err.. yaudah deh. Mau dibacain apa?"

"Hehehe.. lo kayak nggak tau gue aja."

"Hehehe, gue nggak tau emang."

"Yah apalagi sih, paling kenapa gue nggak punya pacar." Dia tertawa. Pahit.

Mau tidak mau aku ikut tertawa. 


Esok paginya dia sudah anteng duduk di sofa sambil membaca majalah yang kemarin aku pinjamkan. Aku bergabung dengannya sambil membawa satu tumpuk kartu tarot pribadiku. 

"Mau Bismillah dulu, nggak?" Godaku.

"Eh, emang boleh?"

"Auk deh. Gue ngasal doang." Jawabku sambil cekikikan. "Ih sesat lo!" Katanya sambil memukul pundakku pelan. 

"Mulai ya." Aku memberikan kartu tarotnya untuk dikocok. "Gue yang ngocok yah?" Aku mengangguk. 

"Nih udah." Katanya memberikan kartu-kartu itu lagi padaku. "Sekarang pilih satu." 

Butuh 5 detik untuk dia memilih kartu pertamanya. 

Aku membuka kartu pertamanya. Aku tercenung. "Emm..Ada yang suka sama lo, nih." 

Aku bisa melihat pupil matanya membesar, tertarik. "Wah, gue kenal nggak?" 

"Ambil satu kartu lagi." Dia membukanya lalu melihat aku. penasaran apa arti kartu keduanya. "Lo kenal. Dia...dekat."

Deg.

Dan ada perasaan tidak enak menyeliputiku. Aku bisa merasakan keringat dingin meluncur dari atas punggungku. 

"Deket gimana maksudnya? Anak kelas gue?"

Kartu lain dibuka dan aku menggeleng. "Bukan anak teknik, kok." Dia terlihat berpikir keras. "Siapa ya.."

"Lo mau nebak atau gimana?" Aku bertanya nekad, tapi 1:1000 dia akan tahu itu aku. "Risa bukan?"

Hah? Siapa tuh Risa? Kataku dalam hati, sedikit cemburu.

Aku membuka kartu lainnya. Lalu menggeleng. "Manda bukan?"

Cemburuku tidak lagi sedikit. 

Kartu lain terbuka dan aku kembali menggeleng. Aku bisa saja berbohong tapi ada profesionalisme yang harus aku jaga. 

"Anak akuntansi bukan?"

Eh?

Lalu kubuka kartu berikutnya. "Hmm.. Iya. Anak akuntansi. Kok spesifik banget?"

Dia tersenyum puas. "Cukup itu yang perlu gue tahu."
  

Thursday, June 4, 2015

Gumpal Sesal Sebesar Bakso


Aku berpapasan dengan Eki hari ini. “Eki!” Aku menyapanya dari jauh sambil melambaikan tangan. Akhirnya dia menoleh dan membalas dengan lambai tangan, lalu kembali sibuk dengan urusannya. Sudah seminggu dan tidak ada ajakan makan cwie mie, bahkan mie goreng Bu Sum. Bukannya aku tidak peduli tapi Gamal bukan distraksi yang buruk. Tidak hanya humoris, tapi cara dia memerhatikan aku bicara ternyata lebih mengasyikan daripada pertandingan futsal ataupun basket.

“Mau kemana nih hari ini?” Tanya Gamal di depan sekolahku. Tidak ada helm cadangan karena dua hari lalu dia datang ke kosan hanya untuk memberikan aku helm baru. Untuk jaga – jaga, katanya. Karena aku akan sering naik motor. Dan malunya, aku tidak bisa menyembunyikan rasa senangku. Aku yakin, wajahku semerah buat tomat saat itu. Tidak sebanding dengan buket bunga tapi cukup untuk membuatku terkesan.

“Bakso Pak Man enak nih kayaknya.”

“Eh itu Eki. Eki!” Aku tidak yakin dia mendengar jawabanku barusan tapi aku melihat Eki menaiki sepeda motornya menuju ke arah kami.

“Eh, halo. Mau kemana?” Bukan urusanku memang, tapi responnya terdengar dingin dan acuh. Jauh beda dengan Eki seminggu lalu.

“Mau makan Bakso Pak Man. Ikut yuk!” Aku berinisiatif mengajaknya.

Eki melihatku sejenak. “Ayo.”

30 menit kemudian kami bertiga akhirnya kebagian tempat duduk dan sudah anteng dengan porsi bakso kami masing – masing. Aku pribadi penggemar bihun dan disini aku bisa makan bihun sepuasnya. Yah, setidaknya satu mangkok penuh dengan kuah bakso. Yum.

“Eki sekarang sombong masa, Mal. Nggak pernah ngajak makan mie goreng lagi.” Cetusku sambil menunggu respon lucu dari Eki. Tapi yang aku temukan hanya sungging senyum datar. “Lagi banyak tugas, Nara. Kapan – kapan ya.” Tidak ada komentar lucu dan kenyataan itu mengusik aku. Eki kenapa?

“Bentar mau nambah bakso lagi.” Kata Gamal sambil beranjak bangun dengan mangkok bersiap untuk ronde kedua. Meninggalkan aku berdua dengan Eki dan banyak sekali hening. “Lo kenapa, Ki?”

Eki menoleh ke arahku, memasang wajah bingung. “Kenapa gimana maksud lo?”

“Lo marah sama gue kenapa?”

“Marah sama elo? Ah, perasaan lo aja.”

Aku menyerah. Eki versi ‘ngambek’ bukan versi yang enak diajak bicara. Makan siang dengan Eki berakhir begitu saja saat hanya lambai tangan yang dia berikan. Tidak ada pamit. Bahkan tidak ada senyum.

“Si Eki kenapa deh?” Aku mengalihkan pertanyaan pada Gamal. Berharap dia punya jawabannya.

“Hah? Kenapa Eki?” Ah, hopeless.

“Eh, besok Sabtu jalan yuk.”

“Sabtu banget?”

“Hahaha biar kayak orang pacaran.” Goda Gamal. Tidak bisa dikatakan gagal memang. “Mau banget dikira pacaran.”

Gamal tergelak lalu berkata, “Ya mau lah. Kamu mau nggak?”

Ha? Maksudnya?

“Udah ah, pulang yuk.”

Aku tahu kodenya. Mungkin tidak pantas pula disebut kode. Itu sudah jelas dan blak – blakan. Mungkin terlalu cepat, tapi Gamal bukan kesempatan yang mau aku lewatkan. Tapi entah apa membuatku berhenti sejenak sebelum mengambil keputusan. Opini lain membuat saya mengalihkan pembicaraan. Opiniku yang lain tentang Eki mencegahku menjawab pertanyaan blak – blakan Gamal.


Lalu rasa ngilu itu datang entah darimana. 

Thursday, May 28, 2015

Cwie Mie Rasa Sakit Hati


“Enak nggak cwie mienya?” Saya bertanya sesaat setelah mematikan mesin motor di depan kosannya. Saya bisa melihatnya tersenyum. “Kapan – kapan lagi, ya.” Dia mengangkat bahunya, memberikan saya jawaban ambigu. “Nggak pake futsal dulu, tapi.” Katanya memberi syarat. Saya tergelak. “Hahaha, kenapa emang?”

“Lo bau.”

Saya tertawa lepas, lalu mengangguk setuju. “Yawes, pulang dulu ya. Mau mandi.” Saya pamit pulang. “Ati – ati ya.”

Keesokan harinya saya berpapasan dengan dia di kantin sekolah. Tidak ada alasan jelas kenapa saya dan dia tidak tersenyum kepada satu sama lain, hanya melihat dengan ekor mata kami berdua dan terus berjalan. Dia dan teman – temannya duduk berjarak satu meja dengan saya dan Ata, karib asli Blitar sudah saya anggap saudara sendiri yang kebetulan kemarin melihat saya tidak pulang sendiri. “Iku arek yang kemaren mbek kon a?” Tanya Ata sambil melihat ke arah kanan. Saya mengangguk. “Namanya siapa, Ki?”

Hening. Sampai sekarang saya tidak tahu namanya. Sampai sekarang di pikiran saya dia adalah adik kelas pindahan dari Jakarta. Sampai sekarang yang saya tahu dia suka indomie goreng Bu Sum, benci bau keringat dan doyan cwie mie. Namanya masih menjadi misteri buat saya.

“Belom nanya.” Ata melongo. Cukup besar untuk memasukan kepalan tangan ke dalamnya. “Lah, seriusan kamu belom tau namanya?” “Hahaha iya entar deh.”

Saya kembali melirik mejanya tepat saat dia juga melihat ke arah saya. Dia menyunggingkan senyum pada saya. Butuh 0.5 detik untuk membalas senyumnya. Bukan hanya rasa hangat yang tiba – tiba berkumpul di pipi saya, tapi juga ada dua atau tiga kupu – kupu terbang di dalam perut saya.

Saya mencegatnya saat dia melewati meja saya. Dia tidak begitu terkejut melihat saya melambaikan tangan ke arahnya. “Nanti jadi makan cwie mie lagi?” Saya bertanya padanya. Saya bisa melihatnya tersenyum kikuk sambil bergantian melihat kedua temannya. “Oh, jadi?”

“Iya lah. Nanti kelas terakhir dimana?”

“Di gedung baru, atasnya kantin.” Saya bisa melihat dia mengalihkan pandangan ke Ata yang tampak tidak bisa berhenti senyum – senyum sendiri untuk membuat saya salah tingkah.

***

“Cwie mie-nya di daerah mana emang?”

“Di daerah soe-hat, kenapa?” Kami berdua berjalan menyusuri lapangan parker motor di belakang kantin, dimana saya biasa memarkir motor saya disana. “Wah bawa helm buat gue juga? Thoughtful.” Sahutnya sambil mengambil salah satu helm saya. Saya cuman bisa nyengir. Bisa dibilang saya bukan penerima pujian yang baik. Saya terlalu kikuk untuk mengucapkan terima kasih. Selalu kelihatan berlebihan dan dibuat – dibuat (sedihnya).

Sesampainya di warung cwie mie yang kelihatan lebih seperti rumah cwie mie dengan tenda 2x2 meter menaungi meja – meja di halaman rumah itu.

Saya membiarkan diri memesankan cwie mie untuknya seperti saat di kantin dengan mie goreng Bu Sum.

“Enak nggak?” Saya menunggu komentarnya tak kunjung dia lontarkan. Tak lama dia mengangguk. “Banget.”

“Eki!” Saya mendengar suara familiar dari pagar warung cwie mie itu. Saya langsung mengenalinya. Namanya Gamal. “Eh apa kabar?” Tanya Gamal sambil melirik teman makan saya siang ini. “Baik, baik.”

“Halo, Gamal.” Sahut Gamal memperkenalkan diri pada perempuan tanpa nama di samping saya. Hanya butuh 2.5 detik untuk mengalihkan jabat tangan dari saya.

“Nara.” Kata perempuan yang namanya sampai sebelum Gamal datang saya sendiri bahkan tidak tahu. Nara.

“Pacarmu tah?” Gamal kembali melihat saya. Nara buru-buru menggeleng yang agak membuat saya sakit hati. Saya ikut menggeleng, pasrah.

“Bukan, dia anak pindahan dari Jakarta. Cuma ngajak jalan – jalan aja.”

“Oh dari Jakarta toh. Sama kayak Eki dong. Aku gabung kalian, ya.” Katanya sambil dengan nyamannya menarik kursi ke samping Nara.

“Kenapa ke Malang?” Tanya Gamal. Sekarang perhatiannya tertuju pada Nara, bukan ide makan cwie mie.

15 Menit kemudian, masih tanpa cwie mie Gamal asyik menceritakan tentang pengalamannya melihat safari malam di Bali sampai nyaris kehilangan kuping kanannya karena monyet liar di Ubud. Dan Nara tertawa mendengarnya.

“Anak Malang?”

Gamal menggeleng. “Blitar, pindah ke Malang buat beasiswa Sampoerna.”

“Oh ya! Seragamnya. Pantes kayak pernah liat dimana gitu.”

Gamal nyengir. “Nggak jadi makan cwie mie?” Saya akhirnya bertanya, memecah bonding time di antara mereka.

“Ohiya! Tadi padahal cuma mau bungkus doang, makan disini aja kali ya.” Ide buruk. Saya berbisik pada diri saya sendiri.

“Iya, boleh.” Kata Nara menambahkan. Gamal tersenyum menanggapi persetujuan Nara.

“Eki ini jago banget main futsal loh. Udah pernah liat dia main futsal belom?”

“Pernah sekali. Nggak terlalu ngerti juga sih aturan mainnya. Hehe.”

“Kalo basket? Aku main basket.”

“Sama nggak ngertinya.”

“Kapan – kapan aku ajakin pas SMA-ku main deh.”

“Iya pas DBL aja.”

“Boleh boleh. Ki, kamu ikut juga! Seru kan punya groupie.” Jawab Gamal semangat. Lupa kalau disini ada yang bersusah payah untuk hanya tahu namanya.

Hmm.

***
“Kenal Gamal dimana, Ki?” Tanya Nara sesaat setelah melepas helmnya. “Dia main futsal juga sama temen-temennya. Pas ketemu lagi di konvensi IPA tahun lalu jadi temen deh.” Jawab saya acuh.

“Anaknya seru, ya.” Nara memberikan komentar pertamanya tentang Gamal.

Dan saya tidak bisa menahan diri saya sendiri untuk bilang, “Kalau kamu mau aku bisa ngasih nomernya.”

Nara terkekeh. “Masa gue duluan yang nge-chat duluan?”

Sulit untuk diakui tapi saya tahu kemana arah pembicaraan ini. Dan saya tahu, mengira-ngira apa yang akan terjadi bukan hal yang baik. Tapi apa yang perlu dikira-kira dengan pembicaraan seperti ini.

Saya mengeluarkan ponsel saya dan memberikan nomor Gamal pada Nara. Saya tahu ini akhirnya tapi saya kalah telak disini.

“Gue nggak minta loh.”

“Gue adalah tipe temen yang baik, Nara.”

Nara tersenyum. “Makasih loh, ya. Kalau lo lagi naksir cewek, bilang aja sama gue. Entar gue bantuin.” Katanya mengisyaratkan saya punya piutang budi padanya.

Satu – satunya bantuan yang saya butuhkan sekarang adalah untuk mengulang waktu dan tidak mengajak Nara makan cwie mie hari ini. Ke tempat makan lain tanpa Gamal.

“Ah, lo nggak bakal bisa ngebantu gue.”

Nara mengernyit bingung.

“Pamit ya. Dah..” Saya menyalakan motor saya dan melaju pergi.